PLTU Bunton Dijamin Ramah Lingkungan

26 04 2008

Kepala Badan Pengelolaan dan Pengendalian Dampak Lingkungan Propinsi Jawa Tengah Djoko Sutrisno menjamin proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa Tengah 2 di Buton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap ramah lingkungan. Jaminan ini sekaligus bantahan atas dugaan banyak pihak yang mencemaskan dampak buruk PLTU ini.

Djoko mengatakan, jaminan tersebut diberikan langsung oleh tim percepatan proyek yang menjadi penanggung jawab proyek itu. Pihaknya bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung untuk meminimalisasi dampak operasional PLTU.

PLTU Jateng 2 dibangun dengan kapasitas 1×600 megawatt (MW) dengan nilai keseluruhan sekitar US$550 juta. Diperkirakan proyek ini selesai dan siap memproduksi listrik tahun 2010. “Proyek ini masuk dalam percepatan sesuai Perpres No 71 tahun 2006 atau Proyek PLTU 10 ribu MW untuk mengatasi krisis listrik di Jawa dan Bali,” ujarnya.

Adapun permasalahan pembebasan tanah untuk proyek PLTU, direncanakan
menelan dana sebesar Rp14 miliar termasuk pembebasan lahan untuk sarana
pendukung berupa jalan masuk antara lain di Desa Penggalang, Wlahar termasuk untuk lokasi jaringan induk tegangan tinggi yang berada di Desa Bulupayung, Kecamatan Kesugihan.

Sekretaris Panitia Pembebasan Tanah, Imam Yudianto menjelaskan, pembayaran
ganti rugi itu telah diselesaikan selama dua hari Kamis dan Jumat pekan
lalu dengan lokasi pembayaran di masing-masing desa.

Pembayaran ganti rugi itu meliputi 313 bidang tanah dan sawah dari lahan
tanah milik seluas 30 hektar yang dibebaskan. Untuk keperluan proyek PLTU
itu direncanakan dibebaskan lahan seluas 50 hektar termasuk tanah milik
TNI Angkatan Darat, atau tanah kokon seluas 20 hektar.

Semula ditargetkan, pembebasan lahannya selesai pada Februari lalu. Namun
karena proses pembangunannya harus dilakukan melalui pelelangan ulang,
sehingga pembayaran ganti ruginya tertunda hingga akhir Maret.

Sementara itu, belasan warga Desa Kanci Kulon, Kecamatan Atanajapura, Kabupaten Cirebon nekad membuat tenda di depan jalan masuk lokasi Proyek Pembangunan PLTU Cirebon, Kamis pagi pekan lalu. Seperti diberitakan Antara, Mereka mempertanyakan ganti rugi yang terlalu kecil. Menurut Chudori, koordinator aksi tenda itu, pembebasan tahap pertama oleh PT Cirebon Elektric Power (CEP) hanya tanah Rp14 ribu per meter. Padahal, pada tahap kedua naik Rp30 ribu, dan tahap ketiga Rp45 ribu per meter, sehingga warga curiga sebenarnya batas harga pembebasan bisa lebih tinggi lagi.

Warga sambil membawa cangkul, linggis, bambu, spanduk, dan terpal berdatangan sekitar pukul 08.00 WIB, lalu mulai mencangkul tanah untuk memasang tiang bambu. Sekitar 40 menit kemudian tenda sudah berdiri dan warga menggelar doa bersama yang dipimpin Chudori.



cilacap di terjang lisus

25 04 2008

CILACAP – Belasan rumah makan ikan bakar yang berada dipinggiran Pantai Teluk Penyu, terpaksa harus berhenti jualan, menyusul terjangan angin putting beliung yang memporak porandakan wilayah mereka Kamis (24/4) sore sekitar pukul 16.00 WIB. Terjangan angin besar itu juga memporak porandakan bangunan puluhan rumah penduduk.

“Gimana lagi, banyak yang rusak terutama atapnya, jadi sementara ini kita tutup untuk perbaikan dulu. Soal kerugian belum saya hitung yang penting kita selamat” kata Yayat salah seorang pemilik warung makan disela – sela kesibukannya memperbaiki warung. Dipinggiran sebelah Utara kerusakan warung makan dan rumah penduduk memang tak terlalu parah, terutama pada bagian atapnya. Namun bagi sejumlah pemilik warung lainnya yang berada disekitar obyek wisata Benteng Pendem, terjangan putting beliung telah membuat bangunan warung mereka rata dengan tanah. Setidaknya ada lima warung makan yang rata dengan tanah dan belasan lainnya rusak pada bagian atapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap, Djoko Triatmojo meminta para pemilik warung untuk tidak memperbaiki kerusakan bangunan mereka.Dalam waktu dekat, pihaknya berjanji segera merelokasi bangunan mereka ke komplek Benteng Pendem. “Kita minta tidak usah dilanjutkan, yang roboh maupun yang rusak diberesi saja sekalian dibersihkan dari pantai. Kita akan merelokasi mereka” tutur Djoko saat ditemui di lokasi kejadian.

Secara tidak langsung, musibah ini cukup menguntungkan pihaknya. Karena selama ini cukup kerepotan mengatasi menjamurnya warung – warung makan di pinggir Teluk Penyu. Dengan berbagai alasan, para pemilik warung makan ini tetap ngotot berjualan disana. Padahal selain mengganggu pemandangan pantai dan merusakan kenyamanan wisatawan, lokasi bangunan mereka juga terbentur status yang kurang jelas dan bukan peruntukannya. Oleh karenanya, dengan bencana ini, Diparta segera mengambil inisiatif untuk merelokasi warung makan. “kita sediakan foodcouse disekitar bangunan relokasi dan 30 unit kios untuk menampung mereka.

Untuk kegiatan ini dianggarkan dana Rp 1,5 milyar yang diambil dari APBN. Tetapi dana tersebut termasuk untuk pembuatan sarana prasanara pendukungnya. Ditanya mengenai kerugian akibat bencana ini, Djoko mengaku masih menginvetarisirnya. “Yang jelas tidak ada korban jiwa” katanya sambil memperkirakan bencana ini sebagai dampak dari badai tropis rosie dan durga yang terjadi di pesisir Selatan Pulau Jawa. Selain merobohkan bangunan dan merusak puluhan rumah warga maupun warung ikan bakar, tiupan angin kencang yang terjadi sekitar 10 menit ini membuat pepohonan tumbang.

Sementara Kepala Badaan Kesbanglinmas,Drs.Yayan Rusyawan Efendi selaku Sekretaris Satlak PB Kabupaten Cilacap setelah mendapat laporan Satlak PB langsung ke lokasi kejadian,serta melakukan koordinasi dengan BMG,yang diketahui penyebab kejadian akibat adanya Tropical CylonDurga yang berada di posisi 10,1 LS dan 98,1 BT dengan kecepatan 6 knot.Serta menghimbau warga untuk tetap tenang dan waspada apabila terjadi angin susulan. Dari data sementara,5 buah rumah tempat usaha atau warung yang roboh berada di lokasi RT 04/07 Kebonjati(Area 70) milik yayat,Gendeg,Paryan,Supri dan Ny.Yaken.Sedang 14 rumah rusak ringan berlokasi di Rt 09/08 Komplek Wisata Baru Pantai Teluk Penyu.



">Aja isin diarani wong kampung,asal aja kampungan..!!   

23 04 2008

Aku sering kenalan karo wong nek lagi lunga-lunga numpak kendaraan umum : bis, sepur, travel apa montor mabur (nek kapal laut si durung tau….jan…ngisin-ngisini banget…padahal asli Tlacap pinggir kisik….). Nek aku takon karo kenalan anyar mau, sing sering tak takokna : ‘’Asale sekang ngendi??’’ Jawabane macem-macem. Contone ana sing njawab sekang Tlacap.

Nek tek oyok maning Tlacape ngendi? Ana sing njawab Kawunganten, Lebeng, Gandrung, Sidareja, Jalan Rinjani, Karang Talun, Jalan Ketapang, Kebon Baru, akeh maning. Nek tek oyok maning ‘’Mas gyeh..rika asale sekang Kawunganten deneng ngaku Tlacap???’’ Jawabane macem-macem juga : ‘’Nek aku ngomong Kawunganten tur sing takon dudu wong Tlacap bingung mbok sing takon??’’ Ana sing njawab kaya kiye : ‘’Men keton Kota mas…Nek ngomong Kawunganten kan ketone Kampung bin Ndeso.’’

Jawaban mau ya bener kabeh, ora nana sing salah. Tapi nek cara inyong tah nangapa isin diarani wong kampung ?????.

Para sedulur isih kelingan mbok jamane krismon. Wektu semeno rega BBM mundhak, Akibate rega keperluan sandang pangan ya pada mundhak, pendheken saben dina nek ngrungokna radio apa ndeleng tipi beritane nelangsani, ana sing sedina kur madang sepisan, ana sing lagi ngliwet dicolong karo panci-pancine, ana sing madhang sega aking, pokoke nelangsani banget lah.

Wektu semenane aku bali kampung maring ndesane rama biyungku nang Karang Mojo, gunung Kidul (DIY). Aku nginep nang umahe liliku sing wong tani gel, ora duwe TV, ora duwe kulkas, apa maning tilpun wong listrik be durung mlebu. Tapi sing tak gumuni, nang kana kuwe ora nana istilah krismon (krisis moneter). Liliku sekeluarga ora kurang pangan, anake ya pada lemu-lemu tur sekolah kabeh, malah ana sing kuliah nang Jogja, mbayar SPP ya ora tau nunggak.

Liliku malah ngomong kaya kiye : ‘’Sing krismon kan wong kota sing masake nganggo lenga tanah utawane gas, lha nang kene masake nganggo pawon, kayu gari repek nang pekarangane dewek, sayuran wis ana, kepengin nyembeleh ayam gari nyekel nang kandang pirang-pirang, ora duwe duwit bisa adol sapi nggo mbayari SPP bocah-bocah.’’ Njelehi banget kan Liliku ngenyek banget karo wong kota. Tapi ya pancen bener, keadaane liliku ora terpengaruh krismon.

Nek tak pikir-pikir kadang-kadang kenapa ya esih ana sing isin diarani wong Kampung??? Padahal urip nang kampung kan lewih ayem, ora polusi, karo tangga teparo ya pada guyub, esih ana sambatan mengko nek wis rampung sambatan diundang kepungan, jan….urip indah banget mbok….????

Aku dadi kelingan lagi kelas 2 SMP, bali sekolah diadhang nang bocah-bocah Kebon Baru (sekolahanku pedek banget karo Kebon Baru), bocahe ta dandanane kota, stil, tapi ya kuwe hobine njaluki dhuwit maring bocah-bocah sekolah. Tau yah…bocahe gayane mabok, ababe mambu nginuman (KTI ndeyan…) sempoyongan terus ngadang aku njaluk dhuwit….lha inyong wedi banget timbang babak bunyak diantemi mendingan tak wehi mbok???? Lagi bae tanganku ngrogoh sak arep njikut dhuwit, ijig-ijig ana petugas teka, lha bocah sing malaki mau mlayu sipat kuping kaya kancil nyolong timun konangan pak tani….jan…mlayune kebat banget…..aku dadi ngguyu geget pisan…ujarku mabok…. dioyok pulisi mlayune nang ngarep dewek….berarti KTI kuwe kur nggo kemu ya…..jan…bocah kota koh kelakuane kampungan banget….aja diconto kuwe….ora becik lah!

Nah…mending dadi wong kampung tapi kelakuane becik mbok?? Timbang dadi wong kota kelakuane kampungan kaya sing padha ndem-ndeman terus njaluki dhuwit.

Liliku pernah ngomong karo aku kaya kiye : ‘’Aku ora isin dadi wong kampung, siki sing larang regane serba kampung. Ayam Kampung daginge regane tikel loro, endhoge ya regane larang kanggo jamu lewih berkasiat.’’ Njelehi banget ya liliku, ngenyek terus maring wong kota, berarti ayam kota regane diobral….asem….

Lha siki nek kenalan karo wong liya trus ditakoni : ‘’Asale sekang ngendi??’’ misale kang Kawunganten apa kang Nusawungu ya jawab baen apa anane, misale jawabe : ‘’ Kawunganten’’ Nek wonge bingung sebabe dudu asli Tlacap dheweke ngoyok maning : ‘’Kawunganten si nang ngendi?’’ Jawab bae nang Tlacap, nek ora ngerti Tlacap jawab bae Jawa Tengah, Nek ora ngerti Jawa Tengah jawab bae Indonesia, Nek Indonesia ora ngerti berarti sing takon lagi koleng…utange akeh…..!

Dadi kesimpulane para sedulur…arep asale sekang ndesa Kluthuk…arep asale sekang Kota Metropolitan….kuwe dudu ukuran kanggo ngukur tindak tanduke awake dhewek….Setuju mbokan?